Langsung ke konten utama

SEBUAH KASIH SAYANG


Aris berjalan bersama kedua sahabat karibnya, Ida dan Naya. Mereka bertiga satu kelas di 2A.1 SMA Merdeka. Menyenangkan mempunyai sahabat yang bisa diajak berbagi suka dan duka. Dan kenyataannya memang Aris merasakannya.
“Ris, nanti sore kamu sama Naya ke rumah ya?” Tawar Ida.
“Lho, memangnya ada acara apaan Da?” Aris balik bertanya dengan acuhnya sambil menendangkan kerikil yang ada di depan monyong sepatunya.
“Slametan,” jawab Ida kalem.
“Bohong ah, jangan ngibul Da, kalau ibumu ngadain slametan nggak mungkin ibuku nggak di kasih tahu!” Protes Aris yang memang masih ada ikatan kekeluargaan dengan Ida  sebagai saudara sepupu.
“Di bilangin nggak percaya sih?” Sungut Ida.
“Kalau nggak mau ya sudah, kita nggak maksa apalagi ngotot nyuruh kamu datang Ris, yang penting pasti ada makanan enak kan ya Da?” Naya minta pertimbangan Ida yang langsung di angguki.
“Ya deh aku datang,” kata Aris pelan. Dia tentu membayangkan akan makan enak di rumah tantenya.
“Dasar perut karet tiap ada makanan, pasti tidak mau ketinggalan!” Seru Ida meninju perut Aris.
“Biasalah Da kayak nggak tahu cowok sih?” Jelas Naya.
“Eh Ris, kamu nggak boleh cengar- cengir dulu kamu nanti yang harus mimpin doa,” terang Ida memberikan syaratnya.
“Doa? Doa apaan? Aku kan bukan modin?” Bingung Aris tidak mengerti.
“Iya, soalnya cuma kita saja yang nyelametin,” tukas Ida.
“Kok cuma  kita Da?” Tanya Naya.
“Habis kita dulu kan yang menyaksikan Tara wafat.” Tiba- tiba saja mata Ida sudah berair terkenang Tara, kucing oranye kesayangannya yang mati karena di lindas mobil di depan rumah ketika mereka bertiga sedang belajar.
“Ooo… Itu to?” Aris turut berduka cita.
“Kalian padaa tahu kan, kalau Tara adalah adikku?” Kenang Ida masih dengan mata berkaca- kaca. Aris yang kumat isengnya tertawa keras mendengar curhatan Ida.
“Ngapain kamu tertawa? Aku lagi sedih nih,” bentak Ida.
“Dengar Da, aku tuh nggak mau ya punya sepupu kucing,” kata Aris masih dengan tertawa.
“Ris jangan gitu,” Naya melarang khawatir Ida tambah marah.
“Biarin Nay, dia nggak pernah ngerasain bagaimana rasanya kehilangan sesuatu yang disayangi sih.” Tukas Ida.
“Maaf deh,” kata Aris masih sambil menahan tawa. “ Nanti sore kita ke makamnya, berdoa untuk memohon ampun kesalahan Tara di dunia. Walaupun banyak tapi pasti deh di ampuni.”
“Tara nggak pernah bersalah.” Seru Ida.
“Nyuri ikan, berak semaunya, berisik dan bikin alergi, apa bukan bukti kesalahan?” bantah Aris.
“Pokoknya nanti sore harus datang, titik.” Pungkas Ida.
Ida tidak mau memperpanjang perdebatan dengan Aris, karena semua orang pun tahu kalau berdebat dengan Aris tidak ada yang bakalan menang. Itulah salah satu kebiasaan buruknya. Aris hanya tersenyum tipis, sebagai pertanda dialah pemenangnya.
Tiba di pertigaan Naya berpisah dengan mereka, karena tidak satu arah dengan Ida dan Aris.
“Da, kamu lihat nggak?” Tanya Aris memecah kesunyian setelah tidak ada Naya.
“Lihat apaan? Mobil? Oo… aku belum pernah buta tuh,” kata Ida.
“Siapa yang nanya itu,” sungut Aris.
“Habis apa dong? Kamu ngomong nggak jelas sih!” Seru Ida.
“Itu lho si Naya,” terang Aris kembali. Ida malahan celingukan sehingga membikin hati Aris jadi dongkol.
“Ada?” Tanya Aris jengkel.
“Sudah nggak ada,”jawab Ida polos.
“Maksudku kenapa Naya nggak pernah cerita itu lho,” terang Aris.
“Kamu memperhatikannya juga ya?” Tanya Ida.
“Tahu masalahnya? Habis kalau kita bergurau, dia sambutannya adem- adem saja.” Kata Aris.
“Nggak tuh, kita kan tahu kalau dia tertutup banget, nggak mau cerita. Paling- paling  Cuma pelajaran sekolah.” Terang Ida.
“kamu yang sama- sama cewek kan biasanya saling curhat? Apa nggak pernah? Kalau aku kan cowok, nggak mungkin dong nanya rahasia cewek?” Tanya Aris kembali.
“Iya, tapi dia nggak mau cerita walau aku sudah berusaha memancing pembicaraan ke masalah pribadi tanggapannya paling cuma senyum dan mengalihkan arah pembicaraan.” Terang Ida.
“Aku tahu pasti kalau dia punya masalah yang tidak ingin diketahui orang lain, termasuk kita sahabatnya,” kata Aris berusaha menerka.
“Aku juga berpendapat seperti itu. Bagaimana kalau kita membantunya, ya sedikit demi sedikit.” Ida meminta pertimbangan Aris.
“Naa… ide bagus tuh Da.” Girang Aris.
“Jangan senang dulu kita kan belum ngerti masalah apa yang di hadapi, lagian siapa tahu Naya nanti menjadi marah.” Kata Ida.
“Benar juga kamu.” Aris dan Ida terdiam beberapa saat.
“Ehm… aku ada ide!” Seru Ida sambil menebak. “ kamu menyimpan cinta sama Naya kan ya?”
“Cinta? Dulu memang iya tapi aku takut kehilangan rasa persahabatan kalau aku mencintainya sebagai kekasih,” Terang Aris.
“Kamu pernah mengutarakannya?” Tanya Ida yang di sambut gelengan Aris.
“Nah ini kesempatannya coba kamu terus terang dan lihat bagaimana reaksi Naya, ini bisa mendorongnya untuk mengungkapkan perasaannya. Siapa tahu juga dia nyimpan rasa juga sama kamu,” beber Ida panjang lebar.
“Ya deh  aku setuju, tapi kalau gagal resiko kita kehilangan dia,” kata Aris khawatir juga.
“Nggak akan Ris.” Yakin Ida.
Aris melakukan rencana yang telah di susunnya dengan Ida. Dia mengutarakan langsung di hadapan Naya.
“Kamu marah Nay?” Tanya Aris bingung karena Naya hanya diam dan menunduk. Naya tidak berani memandang Aris untuk beberapa saat. Tak lama yang terdengar justru isak tangis Naya yang membuat Aris tambah kebingungan.
“Nay… maafkan aku. Aku… “ Ragu Aris masih kebingungan.
“Kamu nggak salah kok Ris, aku yang harusnya minta maaf.” Naya berusaha memandang sahabatnya.
“tapi kamu menangis Nay, mengapa?” Tanya Aris.
“Aku terharu, karena ternyata masih ada orang yang memberikan kasih saying padaku. Aku belum tentu bisa memberikannya padamu dan pada orang lain. Aku tentu belum belum pernah bercerita padamu, kalau aku… sebenarnya… besar tanpa kasih sayang orang tuaku, sudah lama aku menginginkannya, tapi tak pernah aku dapatkan. Aku selalu curiga terhadap semua orang, sehingga semua orang aku anggap membenciku,” terang Naya sambil menyeka airmatanya perlahan.
 “Aku beranggapan begitu karena orang tua saja membuang dan membenciku apalagi orang lain yang bukan siapa- siapanya aku, tentu akan menyia-nyiakan.” Tambah Naya.
“Apakah kamu sadar kalau anggapanmu itu salah?” Tanya Aris.
“Selama aku bersahabat denganmu aku mencoba untuk bisa merubahnya, tapi selalu gagal. Walaupun aku mengetahui banyak yang menyayangi, teman- teman dipanti, pengasuh, guru dan yang lain.” Kata Naya.
“Kamu harus mulai belajar Nay, aku, Ida dan orang disekelilingmu menyayangimu,” terang Aris.
“Terima kasih Ris, aku akan belajar.” Keduanya terdiam sejenak.
“Dan terhadapku?” Tanya Aris dengan berdebar- debar.
“Aku hanya bisa mewujudkan dalam bentuk persahabatan, tidak dalam bentuk yang lain. Maafkan aku Ris.” Jujur Naya.
“Tak apa Nay, terima kasih sudah mau jujur,” ucap Aris tersenyum sambil mengulurkan tangan yang di sambut Naya dengan erat.
Aris menceritakan kembali apa yang Naya katakan kepada Ida, mendengar ceritanya membuat Ida menjadi terharu.
Ida merasa bersalah, selama ini ternyata dirinya tidak peka dengan sahabat sendiri. Naya tidak pernah merasakan kasih sayang orang tuanya, sedangkan dirinya berlimpah kasih sayang dan perhatian dari mama dan papanya terkadang masih merasa kurang. Ah Ida benar- benar tidak bersyukur dengan apa yang sudah Tuhan berikan padanya selama ini.
“Aku tidak menyangka ya Ris, betapa mahalnya untuk mendapatkan kasih sayang dari orang lain, aku akan mengatakan padanya kalau aku menyayanginya. Dan kita berdua rasanya wajib memberikan kasih sayang padanya, walaupun hanya sebuah kasih sayang dalam bentuk persahabatan,” kata Ida masih dengan berkaca- kaca.
“Ya persahabatan sejati,” gumam Aris.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

hatiku bicara padamu

aku bukanlah manusia sempurna yang serba bisa melakukan apapun yang kau mau wahai sayang. aku bukan siti khadijah yang cantik, kaya raya, dan disayang oleh semua orang. aku hanya orang biasa yang menginginkan sedikit kasih sayang dan perhatian dari kamu. yah, aku tidaklah memang sempurna, tapi dengan adanya kamu lah aku bisa menjadi sempurna, walau itu hanya perasaan ku saja. Bila kau hendak tahu seberapa banyak rasa sayangku padamu, maka tengoklah dan hitunglah butir air hujan yang turun hari ini. Sayang, aku tak menginginkan kekayaanmu, aku tak memandang rupa tampanmu, aku tak menginginkan semua itu, aku hanya menginginkanmu disisiku itu sudah cukup bagiku. Sayang, bila kau kesal padaku maafkanlah kebodohanku, bila kau melihat kecerobohanku, aku hanya menginginkan perhatianmu padaku. bila aku cuek padamu, aku hanya ingin kau merayuku dengan kata- kata manismu dan itulah caraku menarik perhatianmu. Entah sampai berapa lama aku bisa menemanimu, tapi aku selalu berharap semo...

puisi harapanku

  Aku masih mengharapkanmu                                                Aku masih merindukanmu Salahkah bilaku mengharapkanmu Salahkah bilaku merindukanmu  Entah dimana dan kapanpun  Dalam keadaan yang bagaimana Kau yang selalu ada dibenakku Kau yang selalu ada diruangan mataku Demi panas dimusim kemarau Demi alam ciptaan Tuhan yang Maha Sempurna Dan demi sunyinya malam ini Ku ungkapkan apa yang ada dihatiku Percayalah ku akan setia padamu Bertahan saat sedih dan senangmu berada disisimu Karena dalam hatiku cuma ada, namamu.. Dan jika suatu saat Tuhan memanggilku Kan ku bawa rasa ini Kan ku bawa cinta ini Selalu.... dalam hati           ...

happy 1nd anniversary

jauh dimata dekat dihati,itu kata- kata yang sering aku dengar orang katakan jika menjalin hubungan long distance relationship (LDR). 1 tahun bukanlah waktu singkat yang kita jalani selama ini, banyak hal yang terjadi dari tangis dan tawa yang selalu menghiasi hari- hari kita.  1 tahun terpisah jarak, yang sering membuatku menangis merindukanmu. basah sajadah disetiap doaku memohon pada Tuhan tuk pertemukan kita. lika- liku peristiwa 1 tahun yang kita alami kadang tangis bahagia, tak jarang tangis kesedihan pun ada.  Amarahmu ketika seharian aku cuek, tawa bahagiamu saat aku manja, perhatianmumu saat aku sedih, kasih sayang yang kau berikan yang selalu membuatku menjadi melayang bahagia, nasehatmu menguatkan aku ketika masalah yang ku hadapi menemui jalan buntu. pertemuan yang selalu tertunda karena kesibukan, sering membuatku berpikir begitu sulitnya untuk bersama walau hanya 1 hari saja. oh Tuhan kuatkan aku. tapi aku percaya Tuhan pasti mempertemukan kita, kan ku ...